Monday, September 16, 2013

Jiwa-jiwa yang Patah



Mungkinkah ada secuil kebahagiaan ketika kehampaan
setia kucacah di ujung luka yang belum mengiring.
Hampa yang mengendus nelangsa dan selalu berakhir
dalam genangan kecewa yang memuja sia-sia. Mengais
pilunya hati tanpa tahu kemana mesti mencari obatnya.

Tergopoh dibilas sedu sedan tangis yang ingin segera
kubasuh dengan senyum merona. Melibas pahit yang
kautinggalkan, menelaah hati baru yang mungkin datang menjelang.
Siapa tahu di suatu masa, kutemukan setitik cinta bersemi
Tanpa tanda tanya. Datang dengan lugunya, menawarkan
terang di balik gelap yang mendekapku dalam titik hitam
yang memanjang.

Setidaknya aku masih punya mimpi yang coba
kuwujudkan dalam damba, meski hanya menepis pada
getar ilusi belaka.
Semoga...


Sepertinya menikam diri sendiri tanpa sakit menjerit.
Kutelan pedih karena mencintai dirimu yang hanya
meninggalkan serpihan lara. Kaupagutkan hatimu pada
orang lain ketika kat asetia kujaga di atas pengharapan
satu-satunya. Tiada ingin kuakhirkan jejak cintaku selain
kepadamu. Tapi kini segalanya telah cukup. Selama ini
kau hanya memberiku mimpi belaka, lain tidak. Aku
pergi kesana terlalu mencintaimu, itulah akhirnya.

Biarlah rasa ini kupendam mati. Dan jangan kau pernah
bertanya meski ada ruang untuk kembali. Aku yang
memualakan, aku juga yang harus meniadakan. Dari tiada
menjadi ada, dari ada emnjadi tiada. Meski jerit sakitku
tak berbuah tangis, jiwaku merapal duka yang meraja di
atas bahagiamu.

Selamat Tinggal!

 
Menyeka segala lara yang menguntit pada malam gelap
Merobek indahnya cerita mencintai dan menantimu

Sapa yang kuruntut pada deretan hari tak menjemput
nyata
Pertemuan yang ku[ilih sebagai pembunuh rindu hanya
menyapu sia-sia

Tak kudengar bisik lembutmu merambah sepiku
Menyudutkanku di batas gelisah yang mengunyah luka,
satu demi satu

Andai kau tahu.


Detik yang kuratapi, menjepit segala ruang yang
kusinggahi. Eribu catatan tentang cinta dan penantian
yang kualamatkan untuk satu nama, telah sampai pada
titik penghabisan. Tak ada lagi celah untuk pengecualian.

Segala dalil untuk membuatku kembali menghunus
damba, kuingkari dengan membiarkan kecewa dan laraku
mengendap dalam emosi yang membara. Membunuh
rindu untuk bangkit lagi. Menenggelamkan janji setia
pada altar tak berpenghuni.

Yang  kulihat hanya bayangan kesepian mencekik.
Mengulum warasku, tak bersisa. Yang kudekap hanya
kesendirian di atas jejak kenangan menyakitkan.

Ke mana akan kubawa duka yang bertahta ini?
Berlindung tak ada payung yang membentang, menangis
tak ada sandaran. Lembab udara yang berembus,
mengundang debu merangkul nalangsaku. Memungut
serpihan cinta yang mulai menghilang ditelan senja kala.

Masih adakah sejumput bahagia menjelma? Aku masih
saja mengesah mimpi menjadi nyata. Medulang ilusi
dengan sia-sia. Mendesahkan harapan yang tersisa tanpa
selera. Bisu membungkam maya. Rebah kaku dengan
tatapan mata yang terus menua. Dan aku tak tahu, di mana kini aku berada.


Menjaring cinta yang timbul tenggelam
di pelukan mimpi yang tak berkesudahan.
menyisakan perih yang meguruk tawa
pada buramnya kaca cermin yang terbelah.
Masihkah ada secuil hati yang tersisa untuk sendiriku?

Tak kucium sekelebat wangi mawar dalam gelisahku.
Tak kurengkuh syahdunya rindu yang mengetuk ruang
kegersanganku. Kemana kaki ini mesti berjalan mencari
sandaran hati yang bergeming untuk dambaku?

Ah, mungkin semua telah sia-sia atau memang jalanku
harus kesendirian dan termangu diam di batas
tanya cinta yang tak jua menyingkapnya tabir bahagia.
Aku pasrah!
Dan semoga aku belum kalah!


Inilah pilihanku:

Kuingkari cintaku dengan membiarkan kecewa
dan lara mengendap dalam emosi yang membara

Izinkan aku bunuh rindu biar bangkit lagi
Menenggelamkan janji setia pada jiwa-jiwa yang
meregang sepi
Melupakanmu dari tiap inci kenangan dalam hidupku
yang hampa


Kucari jejakmu yang terisap kangen tadi malam.
Membawa khyalku dalam rindu yang menggami
resah, lalu galau. Gundah menelinap di balik senyum
sederhanamu yang datang bersama gerimis pagi

Lalu...
Ada damba untuk memelukmu, seketika. Menggiring
serta cintamu saat mata beradu dalam ketulusan yang
tak bersyarat.

Lalu...
Jejakmu merunutkanku pada arakan cinta berkelok.
Menyisakan sepotong kemesraan yang menyisir indah di
butiran pasir basah.

Lalu...

Sunday, September 15, 2013

Kepada Kamu, Rindu itu...


Mungkin benar juga
Kita perlu waktu untuk tidak bersua, tapi sejenak saja
Mungkin tidaklah salah, aku pendam dulu rasa rindu
Biarkan hati merintih dan meratap
Tapi sejenak saja,
lalu untuk selamanya kita berpayung dalam satu cinta...!


Aku terusik kangen yang menelusup di setiap kedip mata
Dua hari menapak jejak bersama, telah memagut getarku
tak bersisa, sepertinya
Biarkan saja semua berjalan tanpa rekayasa
Seperti sejak pertama rasa itu diam membisu
Lalu, perlahan mengetuk pintu hatimu
dalam damba tak bersyarat


Semestinya tak kutelantarkan rindu yang terus menggugat
hingga pagi
Andai saja tak ada jarak yang mengunci langkah kaki,
ingin segera kusandarkan semua gelisah dan gundahku
pada harum ikal rambutmu
Menebar keteduhan, meremas kecemasan...
meninabobokan tangis semalam


Mengais lagi serpihan kata rindu yang kau cecapkan di
tepian pagi
Betapa kuingin mendengarnya beribu kali
Seperti inginkku yang selalu dahaga ingin mendekap dan
rebah didadamu
Luruh dalam magismu dan bertekuk pasrah dalam hatimu, satu

Di dekatmu rinduku tumpah
Mengeja detik yang berlalu dengan kemesraan yang
menggugah indah
Memapah bahagia satu demi datu tanpa jengah

Berdua kita saling meluruhkan kata yang terucap dari palung hati terdalam
Menasbihkan rindu yang lama tersembunyi dalam diam
Tunduk teduh pada keakuan perasaan


Aku tak pernah bisa marah
karena bagiku kau adalah anugerah terindah yang
mendekap barisan hatiku penuh bahagia tumpah ruah
Sepotong senyum yang kau titipkan pada arakan senja,
menghapus kesalku jadi tawa merekah
Dan rinduku tiba-tiba dipenuhi keindahan yang
berlimpah

Cinta Secukupnya


Aku tak pernah berpikir mencintaimu, walau cuma sekejap.

Tapi yang terjadi tak ubahnya alur nasib yang terbalik.

Aku mencintaimu sejak kali pertama,

saat lembut sapamu terucap dan mata lugumu menggugat.

Tanpa kusadari lajunya, dua tahun sudah aku menunggumu.

Mengurungku dengan cinta satu-satunya.

Kubela tanpa harus aku bertanya-tanya.

Bukankah cinta memang tak pernah butuh alasan,

meski cuma satu huruf?! Sepertinya, iya..!



Inikah saatnya kuluruhkan keangkuhanku?!

Mendakwa satu rindu untukmu,

menepikan setiap inci logika menjadi cinta yang setia berdamai dengan palung jiwa.

Sepertinya, aku harus melakukannya!

Bukan semata rindu yang mengerontangkan bejana asa,

tapi lebih karena tulus yang menasihkannya.

Apa adanya, begitu saja!




Kuasamu  atas hatiku merambah belantara rindu

yang tak putus-putus menciumi titik pengakhirannya.

Merunduk malu dalam hasrat yang bergegas tulus untuk mencintaimu selamanya.

Tak lelah menapak dalam jejak yang tertatih-tatih menuju rumah hatimu.

Hanya padamu, kucari segala muara untuk bahagia

Yang kucercap di bibir yang tak lagi punya kata untuk memuji dan berjanji.

Aku cinta, ternyata!




Begitu bermaknanya sebuah kebersamaan.

Hingga ku tak tahu lagi dengan apa kutepikan adamu, sejenak saja.



Begitu menyesakkan dan menyisakan lirih seketika.

Saat kubuka mata, tahu-tahu aku tersadar,

kamu tak ada di dekatku hari ini.

Cinta ini begitu indahnya.

Hanya untukmu!




Saatnya, rebah khusyuk dalam doa untuk cinta yang kubela:



“Tuhan, aku setia menimang-nimang cinta satu-satunya.

Pada beningnya hati, milikmu, yang tak beriak.

Selalu memantulkan cahay biru dan kubisa bercermin darinya.

Hanya tampak wajahku yang mulai layu.



Tertebas segulung mimpi indah yang belum menjamah nyata.

Mengais satu demi satu, sisi jiwanya yang entah bersembunyi dimana.

Sejauh mata melihat, hanya teduh mata air-nya.

Selebihnya, aku tak tahu di mana kau simpan cintamu.



Tapi, aku tetap menimang-nimang dambaku.

Siapa tahu, suatu hari nanti bisa bertemu dan bersatu.

Seperti malam ini, setidaknya ada tatap mata

dan senyum lugunya yang mendamaikan lelehku.



Terima kasih Tuhan, untuk karunia-Mu

Dan semoga dambaku ini, bukan damba semu.”




Sapaku mulai tertatih mencari jejakmu.

Tak kudengar lembut bisikmu mengusik sepiku.

Berbisiklah meski hanya berdesir bersama angin.

Tak apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu detik ini, itu saja!

Karena ternyata, sepiku tak usai.

Menyergap sadarku dari puing keterasingan.



Rinduku pun tak usai. Merapal namamu dari jerit ketakutan.

Cintaku pun tak juga usai. Memasung hatiku hanya untuk satu namamu.

Apakah ini nyata atau semu? Apakah ini janji atau semata ilusi?

Hanya kalam batinmu yang mampu mengurai.

Aku hanya mampu mengibarkan bendera tanda.

Selebihnya, biarlah dirimu yang mengulur benang talinya, itu saja!




Kemarin getar itu tampak begitu nyata.

Terpendar begitu saja dari cangkang keangkuanku yang

Merama-rama di tepian senja.

Hari ini, getar itu menggamit ragu. Tak terhunus karena diammu menengahi segala ruang.



Tapi sungguh, getar itu tak pernah hilang. Damba itu juga masih setia bersemayam dalam adaku.

Jika ini memang cinta, aku hanya tahu bagaimana cara mengungkapkannya dalam ketelanjangan apa adanya: dengan segenap raga, hati, dan jiwaku yang mengulum kepasrahan tanpa syarat.



Masihkah ragu menutup mata hatimu? Mestinya kamu tahu... awal yang kita jejak, semua mungkin terasa hanya menjadi sekelebat mimpi saja. Tapi kita tak pernah tahu, kalau rasa itu tiba-tiba sudah ada di depan mata. Dan tahu-tahu... semua berubah jadi begitu nyata.